Ulasan Film: 'Jumanji: Welcome to the Jungle' (2017)

Kalau kamu dulu menonton Jumanji edisi 1995 di usia yang sangat-sangat-sangat belia, seperti perihalnya saya, alkisah besar kemungkinan kenangan tentangnya lebih dekat atas “mimpi buruk waktu kecil” daripada “hiburan keluarga yang asyik”. Nah, lamun karakter-karakter utamanya dimainkan oleh orang cukupumur, Jumanji: Welcome to the Jungle secara mengejutkan lebih ramah bagi keluarga. Well, mungkin tiada untuk segenap anggota keluarga sebab punya beberapa adegan cup-cupan, tetapi secara kesemestaan ia yaitu tontonan keluarga yang asyik. Sangat enteng, lumayan lucu,lalu cukup seru.

image

“Jumanji” (apapun makna kata itu) versi kekinian bukan lagi papan permainan rupanya video game. Seusai menggila berbarengan Robin Williams, "Jumanji" tampaknya siuman bahwa kediaman permainan yang menjebak anak-anak di dalamnya pernah kuno sehingga ia berubah selaku video game yang, tentu saja, menjebak anak-anak di dalamnya. Helaw, zaman sekarang tidak ada lagi yang memainkan tempattinggal permainan, bahkan ludo lalu ular undak-undakan pun dimainkan lalui smartphone ataupun tablet. Saya menebak apabila "Jumanji" di sekuel Jumanji:Welcome to the Jungle akan menggunakan wujud game berplatform aplikasi.

Film ini terbilang arif untuk film-film sebangsa. Jumanji: Welcome to the Jungle hanya mengambil asumsi dasarnya lalu malah nyantai dengan seluruh peraturan game lalu bersenang-senang dengannya. Ada sebagian lelucon lezat yang melibatkan program game, kayak interaksi terbatas dengan karakter ekstra, masing-masing karakter yang punya kapasitas dan kelemahan ganjil, atau masalah eksposisi game yang maksa.

Attitude seperti ini mengijinkan filmnya buat bisa sekehendakhati abai dengan logika garisbesar. Sesuatu dapat muncul sontak, kapanpun dimanapun film membutuhkannya. Namun di segi lain, ini juga mengasihkan kita sebagian kejutan yang asyik. Lagian, siapa pula yang mikir pertanyaan logika alur di film semacam ini? Gaya dasarnya hanyalah: (1) tiap pemain memiliki tiga nyawa yang digambarkan dengan tato 3 garis di lengan mereka, dan (2) bakal keluar dari game, mereka harus menang.

Mereka yang terperangkap adalah si kutubuku Spencer (Alex Wolff), atlit sekolah Fridge (Ser’Darius Blain), cewek pemalu Martha (Morgan Turner), dan cewe baur yang eksis abis Bethany (Madison Iseman). Mulanya mereka dihukum di sekolah dan disuruh membersihkan depo, tapi justru menemukan satubuah konsol video game. Konsol dicolokkan, game dimulai, karakter dipilih, dan mereka tiba-tiba saja sudah berlokasi di tengah hutan tropis.

Kejutannya merupakan mereka di dunia game tidak lagi mereka di dunia nyata. Maksud saya, Spencer sekarang merupakan ketua perjalanan serbabisa Dr Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Fridge adalah ahli hewan Moose Finbar (Kevin Hart), Martha yaitu gadis pengembara tangguh Ruby Roundhouse (Karen Gillan), lalu Bethany adalah gurubesar paruh berida yang buncit Shelly Oberon (Jack Black). Tetap saja, Bethany histeris melihat wajahnya yang mirip Jack Black. Siapa yang tidak.

Yah yang barusan itu lelucon yang bagus tapi mungkin tak berdiam lama, agak saya. Akantetapi film ini dan para pemerannya memakai lelucon tersebut dengan konsisten tapi tidak serius-serius amat, sehingga melihat mereka berakting melawan klise menjadi sungguh asyik. Casting-nya calak, sedikit banyak lelucon terbantu berkah imej para pemainnya di kehidupan nyata. Seru memandang Johnson yang terpesona bersama bisepnya sendiri (danjika menurut aku, di kehidupan nyata, itulah yang dia lakukan setiap pagi kali berkaca setelah mandi). Hart tentu saja self-aware dengan tinggi badannya. Gillan lucu saat muncul canggung selaku gadis yang berpakaian amat seksi buat berpetualang di hutan. Tapi yang paling menghibur adalah menyaksikan Jack Black yang mendelik, mengigit bibir, menggerutu, dan mengibaskan rambut umumnya gadis kekinian yang anyar puber.

Keempatnya harus tabayyun dengan fisik terkini mereka dan mengesampingkan perbedaan buat memenangkan game. posting informatif mereka adalah mengembalikan permata hijau bertuah ke tempat aslinya. Pengembaraan mereka berlangsung di hutan yang sungguh biasa sembari menghindari buruan dari penjahat yang sangat
Sign In or Register to comment.